Batik
sebagai produk seni adiluhung, awalnya
kelahirannya banyak diwarnai simbol- simbol keraton.
Penggunaannya pun seperti masih terbatas didominasi oleh kalangan keraton. Tapi
akibat pergeseran waktu, batik pun kemudian menjadi komoditas yang
diperdagangkan secara luas. Dewasa ini, penggunaan batik sudah mulai
memasyarakat. Batik juga sudah mulai digunakan tidak hanya dalam upacara adat,
namun juga dalam keseharian. Mulai bermunculan baju-baju yang
bermotif batik. Hingga saat ini banyak
sekali tempat tempat khusus yang menjual batik ini. Mulai dari batik yang
benar-benar sakral dan murni, hingga batik modifikasi yang diaplikasikan dalam
pakaian sehari-hari.
Dalam perkembangannya, upaya membuat kain Nusantara bisa memenuhi kebutuhan
masa kini mengambil beragam bentuk. Bukan hanya ragam hias yang disesuaikan
kebutuhan saat ini atau benang kapas diganti sutra untuk mendapatkan kain yang
lebih ringan dan lebih mudah disesuaikan untuk berbagai keperluan,
melainkan juga cara kain tersebut digunakan, terutama ketika kain tersebut
ditujukan untuk busana.Saat ini batik telah menjadi tren baru di tengah
masyarakat. Tak hanya sandang yang menggunakan kain batik sebagai bahannya.
Sarung bantal, gordyn, dan seprei pun telah ada yang menggunakan kain
batik. Ini adalah awal mula yang baik bagi pelestarian seni batik. Awalnya
harus mencintai dahulu, kemudian muncul rasa andarbeni (memiliki) dan
akhirnya
nguri-uri (melestarikan).
Arti dan Makna Batik
Secara etimologis batik mempunyai pengertian akhiran “tik” dalam kata “batik”
berasal dari kata menitik atau menetes. Dalam bahasa kuno disebut serat, dan
dalam bahasa ngoko disebut “tulis” atau menulis dengan lilin. Menurut Kuswadji
(1981:2) “mbatik” berasal dari kata “tik” yag berarti kecil. Dengan
demikian dapat dikatakan “mbatik” adalah menulis atau menggambar serba rumit
(kecil-kecil).
Arti batik dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia ialah kain dan sebagainya yang
bergambar (bercorak beragi) yang pembuatannya dengan cara titik (mula-mula
ditulisi atau ditera dengan lilin lalu diwarnakan dengan tarum dan soga) (WJS
Poerwadarminta,1976:96).
Pendapat senada dikemukakan Murtihadi dan Mukminatun (1997:3) yang menyatakan
batik adalah cara pembuatan bahan sandang berupa tekstil yang bercorak
pewarnaan dengan menggunakan lilin sebagai penutup untuk mengamankan warna dari
perembesan warna yang lain di dalam pencelupan.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat dikemukakan bahwa batik adalah bahan
tekstil hasil pewarnaan menurut corak khas motif batik, secara pencelupan
rintang dengan menggunakan lilin batik sebagai bahan perintang.
Yang dimaksud dengan teknik membuat batik adalah proses proses pekerjaan dari
tahap persiapan kain sampai menjadi kain batik. Pekerjaan persiapan meliputi
segala pekerjaan pada kain mori hingga siap
dibuat batik seperti nggirah/ngetel (mencuci),
nganji(menganji), ngemplong(seterika, kalendering.
Sedangkan proses membuat batik meliputi pekerjaan
pembuatan batik yang sebenarnya terdiri dari pelekatan lilin batik pada kain
untuk membuat motif, pewarnaan batik
(celup, colet, lukis/painting,
printing), yang terakhir adalah
penghilangan lilin dari kain . (Sewan Soesanto, 1974).
Untuk membuat motif batik dapat dilakukan dengan cara secara tulis tangan
dengan canting tulis (batik tulis), menggunakan cap dari tembaga disebut
batik cap, dengan jalan dibuat motif pada mesin printing (batik
printing), dengan cara dibordir disebut batik bordir, serta dibuat dengan
kombinasi kombinasi cara cara yang telah disebutkan.
Kain batik adalah kain yang motifnya bercorak batik yang dibuat/digambar dengan
cara pelekatan lilin (malam). Sedangkan kain bermotif batik adalah
kain yang bermotif/bercorak batik tetapi motifnya tidak digambar melalui
pelekatan lilin batik, biasanya dengan mesin printing tekstil.
Teknologi pembuatan batik di Indonesia pada
prinsipnya berdasarkan (Resist Dyes Technique” (Teknik celup
rintang) dimana pembuatannya semula dikerjakan dengan cara ikat- celup
motif yang sangat sederhana, kemudian
menggunakan zat perintang warna. Pada mulanya sebagai
zat perintang digunakan bubur ketan, kemudian diketemukan zat perintang
dari malam(lilin) dan digunakan sampai sekarang.
Berbagai Macam Motif Batik
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan
(Sewan Susanto, 1980:212). Motif batik terdiri dari dua bagian, yaitu
ornamen motif batik dan isen motif batik
Penggolongan motif batik
1. Motif Batik Geometris
Motif Geometris adalah motif-motif batik yang ornament-ornamennya merupakan
susunan geometris. Ciri ragam hias geometris ini adalah motif tersebut mudah
dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut satu “raport”.
Golongan geometris ini pada dasarnya dapat dibedakan
atas dua macam, yaitu:
a. Raportnya berbentuk seperti ilmu ukur biasa, seperti
bentuk-bentuk segiempat, segiempat panjang atau lingkaran. Motif batik yang
memiliki raport segi empat adalah golongan Banji, Ceplok, Ganggang, Kawung.
b. Raportnya tersusun dalam garis miring, sehingga raportnya
berbentuk semacam belah ketupat. Contoh motif ini adalah golongan parang dan
udan liris.
Contoh Motif Geometris
2. Motif Batik Non
Geometris
Motif non geometris adalah motif-motif batik yang tidak geometris. Termasuk
dalam motif ini adalah motis Semen,
Buketan, Terang Bulan. Motif-motif golongan non
geometris tersusun dari ornament-ornamen tumbuhan, Meru, Pohon Hayat, Candi,
Binatang, Burung, Garuda, Ular (Naga) dalam susunan tidak teratur menurut
bidang geometris meskipun dalam
bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motif tersebut.
Ornamen Motif Batik
Ornamen motif batik terdiri atas ornamen utama dan ornamen pengisi bidang.
a. Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang mempunyai arti, sehingga susunan
ornamen- ornamen itu dalam suatu motif membuat jiwa atau arti daripada motif
itu sendiri.
Contoh:
- Sawat atau lar, melambangkan mahkota atau
penguasa tertinggi
- Meru melambangkan gunung atau tanah
- Lidah api atau Modang, melambangkan nyala api
- Ular/naga, melambangkan air
- Burung, melambangkan angin
Contoh ragam Hias :
b.Ornamen tambahan tidak mempunyai arti dalam pembentukan motif dan
berfungsi sebagai pengisi bidang. Bentuk lebih kecil dan sederhana. Dalam satu
motif dapat diisi satu atau beberapa ornament pengisi.
Isen motif batik
Motif batik terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi. Isen motif batik
adalah berupa titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi
untuk mengisi ornamen-ornamen dari motif atau pengisi bidang diantara
ornamen-ornamen tersebut. Isen motif ada bermacam- macam dan sekarang masih
berkembang, seperti: cecek, cecek pitu, sisik melik, cecek sawut, cecek sawu
daun, sisik gringsing, galaran, rambutan, sirapan, cacah gori, dan sebagainya.
Makna Masing Masing Motif
Batik
Untuk lebih memahami makna batik, ada dua daerah asal batik yang perlu
dipelajari yaitu daerah Yogyakarta dan daerah Solo.
1. Batik daerah
Solo
Daerah Solo merupakan kerajaan dengan segala tradisi dan adat istiadatnya.
Ragam hias batik diciptakan dengan pesan dan harapan semoga membawa kebaikan
bagi pemakai. Semua dilukiskan secara simbolis, misalnya:
a. Ragam hias larangan dan dianggap sakral, hanya dikenakan raja
dan keluarganya yaitu parang rusak barong, sawat dan kawung.
b. Ragam hias slobog, berarti agak besar/longgar dipakai untuk
melayat. harapannya semoga arwah yang meninggal tidak mendapat halangan.
c. Sidomukti, dipakai pengantin. Sido berarti terus menerus
dan mukti berarti hidup berkecukupan.
d. Truntum, dipakai orang tua pengantin.
Truntum berarti menuntun, maknanya orang tua menuntun mempelai memasuki hidup
baru
e. Satria Manah, dipakai wali pengantin pria ketika meminang dengan
harapan semoga lamaran sang pria dapat diterima dengan baik oleh pihak wanita.
f. Semen Rante, dipakai wali pengantin wanita ketika menerima
lamaran. Rantai melambangkan ikatan yang kokoh.Harapannya jika lamaran telah
diterima, pihak wanita menginginkan hubungan erat dan kokoh yang tidak
dapat lepas lagi.
g. Parang Kusumo, dipakai
gadis pada upacara tukar cincin.
kusumo berarti bunga yang sedang mekar
h. Pamiluto, dikenakan ibu si gadis
pada upacara tukar cincin. Berasal dari kata
pulut, melambangkan harapan ibu agar pasangan
dara dan pria tidak
terpisahkan lagi.
i. Bondet, dipakai pengantin wanita pada
malam pertama. Berasal
dari kata bundet berarti saling mengikat
k. Ceplok Kasatriyan, dipakai sebagai kain untuk upacara
kirab pengantin. Batik ini digunakan oleh golongan menengah ke bawah.
Pemakainya agar terlihat gagah dan memiliki sifat ksatria.
2. Batik daerah
Yogyakarta
Perpaduan tata ragam hias Yogyakarta cenderung pada perpaduan berbagai jenis
ragam hias geometris dan berukuran besar, misalnya:
a. Ragam hias Grompol, dikenakan pada upacara perkawinan. Grompol
berarti berkumpul atau bersatu, merupakan pengharapan berkumpulnya segala
sesuatu yang baik-baik seperti rejeki,
kebahagiaan, keturunan, hidup rukun dan sebagainya.
b. Tambal digunakan untuk selimut orang sakit. Tambal diambil dari
pengertian menambal, yaitu berarti menambah atau memperbaiki sesuatu yang
kurang sehingga kemudian dianggap dapat menyehatkan yang sakit.
Batik tidak hanya sekedar wastra, tetapi karya seni budaya, yang pada awalnya
selalu dihadirkan pada upacara-upacara tradisi dalam masyarakat Jawa. Batik
selalu menyertai setiap tahapan dalam daur hidup manusia. Filosofi dalam
pola batik yang merupakan harapan atau doa-doa itulah yang menyebabkan
batik selalu ada pada setiap upacara-upacara masyarakat Jawa, dan di indonesia
pada umumnya.